← kembali
kemarin kami coba jadi orang yang lebih lembut
 
namun hari ini tiap gerik kami diawasi lekat lekat oleh
sepasang mata penilai. suara kritiknya, meskipun lirih, dapat
kami dengar sejelas murka bapak. kulit ini merinding, dan
tulang ini seperti dicengkram gigil.
"ampuni kami wahai"
"berikan kami napas tenang"
begitulah kami memohon;
permintaan melas yang kami ucap berulang ulang.
 
dan balasan yang kami dapat adalah sebuah perintah
"untuk jadi ajalmu sendiri"
 
apalah itu yang ia minta kami tidak paham
kami mencoba berbagai cara untuk menjadi ajal
namun yang terbentuk di akhir tidak pernah tepat
bukan ajal yang kami bayangkan
 
begitulah,
esok kami akan coba lagi jadi orang yang lebih lembut
terus begitu kami akan coba sampai sepasang mata itu bosan
menilai, dan berpaling pada kerjaan yang lebih penting

orang yang lebih lembut

Juli 2021 · ID