← Prose

Sastra Membunuh Minat Baca

October 12, 2025Original language

Rendahnya Minat Baca Indonesia Adalah Masalah Supply, Bukan Demand

Tiga tahun lalu, gue lulus dari jurusan Sastra Indonesia. Empat setengah tahun belajar teori, kanon, sejarah sastra. Gue masuk sastra karena terobsesi sama buku-bukunya Dee Lestari, terutama Supernova. Sebenernya gue tahu bidang ini lagi sekarat. Minat baca rendah, penerbit kegerus dunia digital, pendapatan penulis kering kerontang. Tapi, waktu itu gue memutuskan: atas nama cinta akan kuperjuangkan.

Terus, di tahun ketiga gue kuliah, gue baca Haruki Murakami. Hard-boiled Wonderland. Novelnya seru, aneh, bingungin. Tapi gue gabisa berenti, waktu baca itu rasanya kaki gue gak napak. Gue kelar sekali duduk.

Kelar baca, gue bengong kaya abis ditampar. Rasanya kaya abis dapet wahyu yang ngubah cara pandang gue terhadap sastra. Gue ambil kesimpulan, bahwa ternyata masalah rendahnya minat baca kita bukan soal buruknya kualitas karya sastra, tapi soal mindset kita terhadap story-telling itu sendiri.

Siapa yang Salah Ketika Semua Orang Ga Paham?

Selama kuliah, gue diperkenalkan kepada karya-karya yang dikategorikan "sastra tinggi." Ahmad Tohari. Laksmi Pamuntjak. Eka Kurniawan. Gue baca semuanya. Gue analisis pakai teori yang diajarkan biar gue paham kenapa mereka ini dianggap "tinggi".

Tapi gue ga bener-bener nemu. Sulit buat gue paham kenapa mereka disebut "susastra". Ya kalo ada tugas, makalah, yang harus dikerjain ya tetep gue kerjain. Tapi kalo hati gue ditanya "kenapa ini bagus" ya gue gabisa jawab dengan pede. Parahnya lagi, gue takut mengakui ini ke khalayak umum, takut di-judge bodoh lah, "masa anak sastra ga ngerti sih". Keresahan ini pernah gue sampaikan ke beberapa temen deket, dan rupanya mereka relate.

Berangkat dari situ, gue bungkus keresahan itu dengan lebih diplomatis, dan gue obrolin ke orang-orang. Ke sesama mahasiswa, alumni, sama temen dari fakultas lain, bahkan ga jarang gue tanya langsung ke dosen. Dari situ gue ngeliat ada suatu pola, ternyata ada disconnection antara apa yang dibilang "sastra tinggi" dengan apa yang sebenernya resonate dengan pembaca.

Gini, kalau mayoritas populasi akademis aja struggle untuk meresapi "kesusastraan", bisa jadi ini bukan lagi soal kapasitas individu. Tapi mungkin ada sesuatu yang salah dan patut dipertanyakan soal kapasitas institusi.

Perbedaan Framework Mengenai Meaning-Making

Ketika gue bandingkan Dee Lestari dengan Haruki Murakami, gue sadar sebenernya mereka berdua sama-sama memanufaktur makna, ya sebenernya semua karya emang gitu sih. Tapi kalo gue teliti dengan seksama, keliatan jelas perbedaan mendalam mengenai framework yang mereka gunakan.

Dalam tradisi sastra Indonesia yang gue pelajari, ada pressure terhadap setiap karya untuk punya makna struktural. Setiap metafor harus simbolis. Setiap plot harus ada komentar sosial-politik. Tradisi ini bukan salah siapa-siapa, semua penulis Indonesia adalah produk dari budaya yang sama yang membentuk kita semua. Budayanya juga punya fondasi sejarah tersendiri: dulu kita fokus sama pembangunan nasional, perlawanan kolonial, ditambah kita harus bertahan hidup di era reformasi.

Nah, kontras dengan budaya strukturalisme di sastra kita. Karya-karyanya Haruki Murakami rasanya kaya ga menghadapi pressure yang sama. Selain karena dia orang Jepang, dia juga punya narrative-arc yang nuansanya deeply different dengan karya Indonesia. Di cerita-ceritanya Murakami, kalo ada kucing hilang ya kucing hilang. Sumur kering ya sumur kering. The meaning emerges organically, maknanya muncul secara organik. Bahkan seringkali gak ada meaning sama sekali. Meskipun pilihan estetika ini bisa dianggap sebagai hasil manufaktur budaya juga (budaya Jepang. the aesthetic of mu, of nothingness), tapi intinya gue mau nge-highlight adanya perbedaan respon masyarakat pembaca terhadap dua framework "meaning-making" tersebut. Meskipun bisa jadi ini bias subjective gue, tapi gue tetep harus tau alasan dibaliknya.

Mindset Institusi Sastra: Antara Bertahan atau Berevolusi

Balai Pustaka, dibangun 1917, punya sejarah kompleks. Apakah mereka adalah alat kolonial? Bisa jadi. Tapi ga bisa dipungkiri bahwa dampak kesuksesan mereka masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Definisi yang kita pakai untuk "Sastra Indonesia" aja masih banyak yang berasal dari era tersebut.

Tapi sistem sistem pemikiran yang dibangun untuk suatu era ga mungkin disamakan dengan era lain. Semua masa punya tantangannya masing-masing. Masa approachnya masih sama?

Di kampus-kampus sastra, senioritas seringkali berdiri di atas (dan menginjak) kompetensi. Ada budaya di mana usia dan posisi secara otomatis membawa otoritas, legitimasi. Bahkan di dalam forum diskusi bebas sekalipun. Budaya kesepuhan ini bisa lestari berpuluh-puluh tahun bukan hanya hasil kerja aktor elit untuk menjaga narasi, tapi juga kita sebagai masyarakat rela tunduk gitu aja. Kita mengamini dedengkot ini dengan mengangguk tanpa ragu. Hal ini menciptakan echo-chamber di mana definisi "sastra tinggi" jarang ditantang.

Sistem diskursus ini kurang lebih mengatakan bahwa:

"Sastra tinggi" adalah yang membawa tema besar, sejarah, pembangunan nasional, kritik sosial

"Bukan sastra" adalah karya populer, walaupun karyanya relate dengan contemporary Indonesian experience

Sebenarnya, mindset biner seperti ini sudah ada perdebatannya tersendiri. Kritikus seperti Nirwan Ahmad Arsuka dan Katrin Bandel sudah lama serius menyelami dunia fiksi populer. Tere Liye dengan Hujan dan Bumi-nya memang debatable secara kesusastraan, tapi fakta bahwa dia berhasil dibaca jutaan orang menandakan sesuatu yang layak diperhatikan, bukan diabaikan.

Lucunya, karya yang di-dismiss sebagai "bukan sastra" seringkali malah sukses menangkap pengalaman kehidupan masyarakat kontemporer. Sedangkan "Sastra Tinggi" (atau yang dilabeli sebagai sastra tinggi) malah gagal menangkap hal tersebut… yang ditangkap malah pengalaman kehidupan masyarakat jaman kapan-tau, yang susah dirasakan relatibilitasnya.

Lagi-Lagi Masalah Supply-Demand

Sekarang coba mari kita perhatikan masalah rendahnya minat baca orang Indonesia.

Narasi umum yang menjelaskan kenapa minat baca rendah, adalah karena orang Indonesia pemalas, miskin, terlalu mudah bersyukur, hidupnya kurang berbudaya. Atau kalo udah kaya dan berbudaya, mereka malah lebih suka scrolling sosmed.

Tapi gimana kalau ternyata masalah intinya bukan itu semua. Gimana kalau ternyata masalah intinya ada di mismatch supply-demand dalam ekosistem literatur kita?

Coba lo perhatiin, para penerbit itu sebenernya menghadapi tantangan bisnis yang nyata. Udah market kecil, distribution costs tinggi, ditambah lagi ada gate-keeping kebudayaan yang memperkeruh suasana. Pengendalian opini publik yang membatasi karya apa yang dianggap layak terbit.

Hasilnya:

Sastra tinggi diterbitkan dengan oplah kecil, dibaca oleh lingkaran yang itu-itu aja

Karya accessible yang berkualitas sulit buat dapet legitimasi dan distribusi yang layak

Kelangkaan buku-buku yang bisa berperan sebagai 'pintu-masuk' masyarakat ke budaya membaca yang lebih dalam

Coba lo bandingin dengan negara lain:

Jepang: Mereka sebenernya juga punya sistem gate-keepingnya sendiri, dengan yang mereka sebut "junbungaku" (sastra murni) dan sastra hiburan maknanya sangatlah kontras. TAPI, mereka berhasil membuat semacam "jembatan" dengan light-novels dan manga-nya. Pembaca bisa graduate dari Shonen Jump ke Murakami.

Amerika: Mereka juga menghadapi krisis sastra, TAPI ekosistem mereka memiliki multiple entry points — genre fiction, YA (Young Adult), graphic novels (komik) — yang tidak serta-merta dicap rendah.

Korea: Webtoon novels yang pelan-pelan mendapatkan legitimasi menandakan adanya adaptasi. Dedengkot mereka ga kaku.

Kita bisa belajar dari mereka. Tanpa meniru persis, kita bisa cari solusi buat negara kita sendiri.

Siapa yang Diuntungkan?

Budaya kesepuhan sastra di Indonesia memang berpengaruh buruk, tapi kalo pelan-pelan kita netralisir budaya tersebut, bisa jadi:

Alumni dan mahasiswa bisa diuntungkan dari pendekatan yang lebih inklusif terhadap keagungan sastra.

Penulis baru yang memproduksi karya untuk mengisi ruang antara "sastra tinggi" dan "populer" bisa dapat pengakuan.

Penerbit bisa menemukan pasar baru kalau definisi "sastra layak terbit" diperluas.

Dan utamanya, adalah PEMBACA. Mereka yang sedang dalam tahap discovery. Mereka yang mencari bahan bacaan menantang tapi bisa mudah dicerna, bermakna tapi tidak menggurui.

Sekarang tantangannya adalah bagaimana kita bisa menjaga apa yang bernilai dari tradisi sastra, sembari berevolusi dan beradaptasi terhadap realita kontemporer?

Runtuhkan Tembok, Bangun Jembatan

Indonesia sebenernya udah punya penulis yang berhasil jadi jembatan antara ide-ide populer dan ide-ide agung. Gue nemuin ini ketika baca series Supernova oleh Dee Lestari yang lumayan berhasil menggabungkan renungan filsafat dengan story-telling yang mudah dicerna. Eka Kurniawan juga belakangan ini merilis karya yang menunjukkan evolusi menuju pasar populer tanpa kehilangan ciri khasnya kesastraannya. Leila Chudori juga berhasil menjembatani perbedaan generasi dan gaya.

Keberhasilan penulis-penulis tersebut menunjukkan bahwa hal itu mungkin untuk dilakukan. Tapi sayangnya jumlah mereka masih jadi minoritas, dan usaha yang mereka lakukan terasa seperti menjaga benang merah yang nyaris putus digerus godaan scrolling sosmed dan kemunduran atensi.

Yang kita butuhkan untuk menghidupkan kembali budaya baca yang sekarat ini adalah inisiatif dari semua pelaku, bukan hanya dari penulis yang namanya sudah besar. Kita butuh akademisi dan kritikus yang tidak mengagungkan budaya kesepuhan. Kita butuh hadiah sastra baru yang memenangkan accessibility disamping nilai kesusastraan.

Utamanya, kita butuh ubah mindset: harus belajar memahami bahwa masing-masing pembaca butuh entry-point yang berbeda-beda. Mulai menghargai nilai pengalaman kontemporer, bukan cuma makna historis. kita harus mengamini bahwa kebermaknaan bisa muncul secara organik, tidak harus dimanufaktur dan ditancapkan di atas menara gading.

Kita harus menerima bahwa ekosistem kita butuh spektrum, bukan binary.

Obrolan yang Kita Butuhkan

Gue nulis ini di Medium karena kita butuh adanya percakapan seperti ini di tempat berkumpulnya para pembaca, bukan di jurnal akademis, bukan di dalam ruang kuliah. Semua orang di sini bisa menulis tentang apapun, dan mungkin pendekatan demokratis macam ini yang dibutuhkan oleh budaya sastra kita.

Gue ga mau ngebongkar kanon. Gue ga bilang "popularitas itu segalanya." Banyak fiksi populer yang emang dangkal. Banyak sastra tinggi yang emang beneran jenius, bernilai adi-luhur dan layak dijaga.

Tapi kalau kita mau jujur sama diri sendiri, keliatan jelas bahwa krisis supply di sastra Indonesia itu beneran nyata. Penerbit, penulis, kritikus, akademisi, pengajar. Kita semua punya peran dan pilihan masing-masing, antara mau melestarikan masalah atau menyelesaikannya.

Sekarang gue tanya:

Buat para pengajar: Apakah cara kita mengajarkan sastra sudah berhasil menciptakan pembaca baru atau malah bikin murid kita merasa teralienasi dari pengalaman membaca?

Buat penerbit: Apakah tantangan bisnis penerbitan bisa terbantu dengan memperluas apa yang kita anggap sebagai karya layak masuk pasar?

Buat kritikus: Apakah kita bisa engage ke karya-karya populer dengan kritisisme yang serius, dan tidak dismissal?

Buat para penulis: Apakah ada ruang yang masih bisa dieksplorasi antara hiburan murni dan seni murni?

Gue nggak punya semua jawabannya. Yang gue punya cuma pengalaman sebagai pecinta sastra, gue ga sepakat dengan bagaimana sastra didefinisikan, dipagerin, dan diarak-arak.

Indonesia punya sejarah buruk dengan budaya membaca. Begitu merdeka kita langsung dihadapin sama jaman radio. Ditambah lagi kelakuan para dedengkotnya, karakter kesepuhan dan elitisme yang ada di semua sektor, salah satunya sektor sastra. Air keruh tambah keruh, sampe-sampe gaada lagi yang mau berenang. Tapi kalo kita akuin bahwa ini masalah, mungkin kita bisa mulai cari cara gimana buat jernihinnya, biar orang-orang pada mau berenang lagi.

Masalahnya bukan orang Indonesia gak suka baca. Masalahnya bukan gara-gara godaan scrolling sosmed.

Masalah utamanya mereka gabisa nemuin buku yang tepat untuk dibaca. Karena kita ga bisa kasih mereka bacaan yang mereka suka, yang mereka bisa pelajari dan ambil makna yang relate di kehidupan mereka sendiri.

Jadi, mungkin sekarang waktu yang tepat buat membangun jembatan dan meruntuhkan tembok.

*Penulis adalah alumni Sastra Indonesia yang sekarang bekerja di digital business. Ini adalah bagian dari meditasi penulis tentang budaya sastra dan bagaimana kita bisa ningkatin minat baca. Monggo kalo mau ada yang kritid atau diskusi di kolom komentar.*